RSS

Olimpiade Psikologi 2009

“Psychology Competition 2009”

Catatan dari Olimpiade Psikologi 2009

Jum’at-Minggu, 8 – 10 Mei 2009

Pengetahuan yang baik selalu berisi pengalaman dan pengalaman yang baik selalu berisi pengetahuan... Saat itulah kita semua belajar...


Olimpiade Psikologi

Ini harus aku bagikan.. Ya, karena tak semua bisa ikut Olimpiade Psikologi di Universitas Kristen Maranatha Bandung. Jadi tentunya pengalaman ini harus aku bagikan dengan kawan-kawan yang lain, khususnya kawan2 di Kampus Psikologi UIN Jakarta sebagai sharing pengalaman dan pelajaran untuk mempersiapkan diri di ajang Kompetisi Psikologi tahun depan.


Psychology competition ini adalah yang kedua yang diikuti oleh Psikologi UIN JKT, tahun lalu Psikologi UIN mengirimkan satu tim dan berhasil berada di urutan 11 dari tim-tim Psikologi se-Jakarta-Bandung. Tahun ini Psikologi UIN mengirimkan dua tim, (UIN A: Bima, Andi, Ami & UIN B: Iqbal, Muti, Kory, pengganti: Isni). Lomba diadakan pada hari Sabtu-Minggu, terdiri dari 2 babak Penyisihan dan babak final.


Road to Competition..

Informasi tentang Kompetisi Psikologi 2009 ini masuk mading kampus sekitar 2 bulan sebelum hari H. Untuk menentukan siapa saja yang bisa jadi peserta di ajang tersebut sebagai perwakilan dari Psikologi UIN Jakarta, maka pihak kampus mengadakan seleksi 2 minggu sebelum hari-H.. [2 minggu sebelum hari-H? Telat!!]. Sekitar 30 mahasiswa yang secara tidak sengaja kesemuanya berasal dari angkatan 2006 mengikuti seleksi tersebut. Seleksinya cukup ketat dan sulit, yaitu tes pengetahuan dengan 100 soal Psikologi, tes kepribadian (DAP,BAUM), tes wawancara dan mengajukan CV lengkap dengan prestasi yang pernah diraih..Setelah agak cukup tegang menunggu hasil tes, hasil seleksi tingkat kampus pun keluar beberapa jam setelah tes dilaksanakan.. Mereka adalah nama2 yang tersebut di atas. Lalu kita hanya mempunyai waktu 2 minggu untuk mempersiapkan segalanya..


Senang setelah masuk dalam tim Psikologi UIN Jkt untuk Olimpiade Psikologi tahun ini, maka amunisi perang pun dipersiapkan.. Hari pertama kita ditugaskan untuk membuat 100 soal Psikologi. Keseriusan dan ketegangan mulai terasa selama pembuatan soal. [Perlu diketahui bahwa uji pengetahuan psikologi ini adalah seluruh materi psikologi dari awal hingga akhir yang dikuliahkan, Psikologi Perkembangan, Pendidikan, PIO, Sosial, Metodologi Penelitian, Klinis, dll.] Cukup sibuk dengan materi-materi psikologi.. Tapi Inilah yang aku tunggu, memenuhi otak dengan ratusan teori Psikologi...!


Tiada hari tanpa belajar, itu prinsipnya! Pagi kita belajar sambil menunggu dosen, siang hingga magrib bimbingan dengan dosen, dan malamnya dengan anggota tim di kosan.. Buku-buku Psikologi mulai bertumpuk di meja belajar, beberapa di antaranya perlu dirangkum dan diketik ulang. Tak ketinggalan tembok kamar pun mulai penuh dengan kertas-kertas berisi puluhan teori2 dan istilah2 dalam psikologi..


d’Competition..

Tim dari UIN yang berjumlah 7 orang berangkat menuju Bandung jam 9 hari Jumat menggunakan traveL. Yang mengurus semua keperluan kami adalah Ega (bendahara BEM), dan Pak Luthfi (Dosen pembimbing)..


14.00 p.m.

Aku dan kawan-kawan tiba di Hotel Geger Kalong Asri Bandung jam 2 siang. Setelah check in dan menempati kamar masing-masing (2 kamar untuk cowo & cewe), kita berniat mencari makan siang dan mengunjungi Maranatha sebelum lomba besok. “Agar tahu medan” begitu Bima bilang.


Tidak butuh waktu lama, hanya sekitar 10 menit kita sudah berada di tempat makan di depan Kampus Maranatha.. Makan siang di sini cukup enak dan murah.. Chicken Maryland dan Teh Poci seharga 11.500 mengisi perutku siang itu… Ondeh Mandeh… enak dan murah! Aku rekomendasikan tempat makan yang satu ini! Tapi hati2, karena di salah satu kiosnya ada juga yang juaL “Babi Kecap“!! Hehe...



-Menikmati makan siang di pusat jajanan depan kampus Maranatha-

Maranatha...

Universitas Kristen Maranatha lebih tepatnya. Aku pernah melihatnya sewaktu ke Bandung tiga tahun lalu, dan kali ini aku harus mengunjunginya... Kampusnya cukup besar, kalo tidak salah 3 gedung yang memiliki 10 lantai, dan gedung lainnya sekitar dua atau tiga lantai... (Ah, kayaknya masih keren UIN, 5 gedung berlantai 7 selebihnya dua dan empat). ;)


Kehadiran ‘makhluk‘ dari UIN di Kampus Maranatha siang bolong sepertinya cukup mencolok, Ya...secara jarang2 di Kampus Univ. Kristen Maranatha ada orang yang berkerudung.. Cukup stress juga ne mengunjungi Maranatha.. Yang paling membuat stress bukan karena kita “aneh“ di Kampus orang, tapi karena acara “biar tau medan“ ini cuma menyita waktu.. Aku pikir lebih baik untuk membahas soal atau belajar masing-masing untuk lomba besok. Tapi ya...sudahlah, toh karena mengunjungi Marantha ini juga akhirnya aku bisa bersilaturahmi dengan ATM BCA. :D


19.00 p.m.

Malam hari di tempat kami menginap, aku dan kawan-kawan mulai kembali bergelut dengan teori-teori Psikologi. Ini adalah saat-saat terakhir untuk belajar sebelum lomba besok pagi dimulai.. Seperti hari-hari sebelumnya, belajar kelompok ga cuma ngebahas teori-teori psikologi, tapi kadang kita bahas juga hal-hal yang ga penting...Hha.. Ini cuma untuk berngakak ria di tengah stress teori-teori Psikologi. Ya...biasanya bahasan ini keluar secara biadab dari mulut si’Nenek Ami yang kadang meracau karena serangan dementia retrogad.. Hha.. Pis nek!


23.00 p.m.

Sebelum terlelap tidur dengan ratusan teori Psikologi, jam 11 malam ini aku sempatkan terlebih dahulu untuk melihat aksi bang Limbad di Final d’MASTER RCTI.. Hhe, Ga ketinggalan aku beri dukungan juga untuk beliau.. [MR LIMBAD]. Tapi sayang, di akhir penentuan jagoanku kalah... Hik’s… ;( Hhe.. Dah lah, bisa nonton aja dah seneng.. o,O


Sabtu, 9 Mei ‘09

Ini hari yang ditunggu.. Psychology Competition se-Jawa.

Lomba diadakan di Gedung Serba Guna Kampus Maranatha. Kami datang pagi-pagi sekali menuju kampus Maranatha, sehingga GSG masih tampak lengang sejak kami datang. Namun lomba dimulai sesuai dengan jam yang dijanjikan. Seluruh peserta dengan berbagai almamater yang mereka pakai telah berkumpul untuk sama-sama menguji pengetahun di olimpiade psikologi tahun ini.


Dan… Babak pertama dimulai.. “At The Beginning!!”. Seluruh peserta diminta untuk duduk berdasarkan nomor yang telah ditentukan. Pada babak ini setiap individu [bukan per-tim] akan diuji pengetahuannya dengan diberikan 60 soal psikologi yang dikerjakan selama 45 menit. Nilai per individu akan diakumulasikan menjadi nilai kelompok. Dan 20 besar akan masuk ke babak berikutnya..



-arena kompetisi-

Soal terselesaikan sudah. Dari 60 soal aku hanya yakin mengerjakan benar sekitar 65%. Semua soal yang keluar tersebut adalah materi2 Psikologi yang memang aku kenal, namun beberapanya aku lupa dan ada beberapa istilah dalam soal yang aku dan kawan2ku pun tidak mengenalnya.


Saat-saat menegangkan adalah saat pengumuman kelompok mana yang berhasil masuk ke babak selanjutnya. Dari 32 yang hanya akan diambil 20 tim..!! Dan, Alhamdulillah... Tim UIN B berhasil masuk! Kita ada di urutan 11 dari 32 tim se-Jawa. Sementara di urutan 12 ada UGM 1. Aku, Kori dan Muti sejenak bisa menghela nafas karena bisa lanjut ke babak selanjutnya. TIM UIN A belum berhasil.. Di antara yang gagal ada jugaUNPAD B atau BINUS dll..


Babak selanjutnya adalah Thank God I Found You”. Pada babak ini setiap tim diberikan kertas berisi huruf-huruf yang membentuk kata tertentu di dalam kotak yang menjadi lembar jawaban. Tim diberikan 40 soal yang harus dikerjakan dalam waktu 60 menit. Cara menjawabnya adalah dengan memberi warna pada kata yang menjadi jawaban di lembar jawab. Pada babak ini kesulitannya bukan hanya pada menjawab soal-soal, melainkan harus menemukan jawaban berupa kata yang tersembunyi di antara ratusan huruf-huruf di dalam kotak lembar jawab. Dari 40 soal, jika tidak salah kita berhasil mengerjakan 33 soal.. 10 tim terbaik berhak maju ke babak selanjutnya.


Saat mengerjakan soal pada babak kedua ini, dari tempat kami mengerjakan soal, aku melihat kawan2 kampusku tiba di GSG Maranatha untuk memberikan support. Oh, ini kejutan..!! Jauh-jauh mereka datang dari Jakarta menuju Bandung hanya untuk menyaksikan kami bertanding. Untungnya saat mereka datang aku dan yang lain masih berada di arena pertandingan.. Ada sekitar 10 orang yang datang.


Pengumuman dari babak 2, TIM UIN B GAGAL masuk ke babak selanjutnya... Ah, ini cukup membuat kami kecewa, karena sesungguhnya kami menyiapkan diri hingga babak akhir.. Tapi apapun hasilnya harus kita terima. Kita belum berhasil.. Yang bisa dibanggakan adalah kita berhasil berada di urutan 11 dari tim-tim Psikologi se-Jawa. [Aku masih ingat ada satu tim yang berasal dari Jawa Timur tapi ia gagal di babak pertama]. Sepatutnya kita harus bersyukur dengan hasil ini..


Selanjutnya kami hanya menyaksikan tim yang berhasil masuk 10 besar bertanding di babak berikutnya. Saat menyaksikan tim kampus lain bertanding, datang lagi 3 orang teman kampusku yang juga ingin memberikan dukungan pada kami, tapi sayang kali ini kami tidak lagi berada di arena pertandingan. Padahal mereka datang menggunakan bus dari Jakarta..


-Supporter UIN Jakarta di Psychology Competition-


Ba’da dhuhur seusai makan siang dan berfoto ria di kampus Maranatha, aku dan seluruh rombongan segera bersiap untuk kembali ke Jakarta. O, aku terpikir untuk sejenak berada di Kota Bandung sebelum kembali ke Jakarta, mungkin untuk mengunjungi teman atau hanya sekedar berjalan-jalan. Bingung!, karena ini juga tentang budget! Hhe. Semua rombongan telah bersiap di dalam mobil. Oh, 3 orang temanku yang datang belakangan tidak bisa bergabung dalam mobil ini, kecuali jika aku jadi bermain di Kota Bandung dan pulang sendiri, mereka mungkin bisa ikut untuk pulang bersama-sama dengan rombongan. Di saat bingung menentukan bermain dulu di Bandung atau pulang bersama-sama, 3 orang temanku itu telah izin lebih dulu agar mereka pulang sendiri. Ah, segera aku keluar dari dalam mobil dan pamit untuk pulang sendiri juga dengan alasan ada teman yang menunggu. Aku berjalan menjauh rombongan yang akan segera pulang lalu aku menyebrang jalan. Tak berapa lama rombongan pun pergi meninggalkan kampus Maranatha.

[Ini bukan karena sungguh2 aku ingin bermain dulu di Bandung, tapi tentang ketiga orang temanku yang bersusah payah datang ke Bandung menggunakan bisa umum, ternyata hanya untuk melihat aku dan yang lainnya duduk menyaksikan tim2 kampus lain bertanding, karena kami telah kalah lebih dulu. Ah, rasanya sia-sia dan membuat mereka kecewa..] Segera setelah aku berdiri sendiri meninggalkan rombongan yang pergi menuju jakarta, aku mengirimkan sms ke salah satu dari 3 orang temanku itu: “Cuy, gimana kalo besok kita adventure di kereta? Ne awak mu ke rumah temen di Antapani.. Besok Insya Allah k tmn di UIN Bdg. Nah, kalo u pada masih di UIN, mungkin kita bisa pulang bareng..” 03:34 pm ---- Kenapa ga pulang bareng yang lain bal? Ya dah ketemu besok..” jawab mereka.

Berdiri di pinggir jalan dan masih belum menentukan tujuan hendak ke mana, karena tak ada janji untuk mengunjungi rumah sahabat atau apapun. Antapani tadi hanya mengira2 karena dia paling memungkinkan untuk dikunjungi. Maka aku coba menghubungi temanku di Antapani itu, mungkin malam ini aku bisa menginap di sana. Dan seperti yang ku duga, temanku yang satu ini selalu ada waktu bagiku. Thx.. Akhirnya setelah bertanya pada beberapa orang, sampai juga aku duduk di bis yang konon menuju Antapani.


Aku duduk di bangku paling depan.. Tiba-tiba hujan turun perlahan dan makin deras.. Hari makin gelap saat bis mulai melaju, tak terasa ini sudah malam.. Aku merasa cukup letih sekarang.. Ini akhir dari perjuanganku menguji otak di Olimpiade Psikologi. Sudah berlalu...!! Tak apalah jika aku belum berhasil, menjadi peserta saja aku sudah bersyukur.. Saat-saat sendiri di bis seperti ini mengingatkanku saat aku pulang dari sebuah demonstrasi 10 mei 2008, letih dan sangat lusuh...


After competition...

Malam saat tiba di Antapani, aku diajak menonton konser The Panasdalam, ini band Indie Bandung.. Kebetulan ini malam minggu, jadi Bandung agak ramai.


17 mei 2009

Keesokan harinya, minggu pagi aku dan kawanku menuju Dago Plaza, ada diskusi Bahasa Inggris, lebih tepatnya kursus bahasa Inggris yang diadakan tiap minggu pagi. Pulang dari DAPLA aku menuju CIWALK di sana rencananya aku akan bertemu dengan ketiga temanku yang kemarin tidak sempat menyaksikanku bertanding. Di Cihampelas Walk ini sedang ada lomba busana/kostum Jepang, lengkap dengan sebuah panggung konser yang menyanyikan lagu-lagu Jepang. Dari Ciwalk kami menuju salah satu pasar, aku lupa namanya, di pasar ini aku menemani ketiga kawanku (yang kesemuanya wanita) berbelanja. Ya, mereka wanita! Dan ini adalah Belanja!??. Hm…dua sisi mata uang! Tapi beruntung,, karena dari pasar inilah aku mendapati buku Victor Frankl dan sebuah buku penting yang pernah aku miliki namun hilang, ‘Kata Cinta‘..


Sore hari kita sudah berada di statiun.. Perjalanan menuju Jakarta dilalui menggunakan kereta, ini perjalanan yang cukup menyenangkan, berada 3 jam di kereta pada malam hari jadi pengalaman tersendiri yang berkesan. Jakarta menungguku… dan menunggu kabar dari Olimpiade Psikologi.. Thank’s for alL, thank’s for everything… =)



-Tim UIN Jakarta di Olimpiade Psikologi-


-In front of Bandung station-


-Di Kereta menuju Jakarta-



-Menutup cerita Psychology Competition dengan beberapa potong pizza.. so delicious!! ;D

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Demokrasi Bubur Kacang Ijo

Kamis, 09 April 2009

Ini catatan sewaktu PEMILU CALEG berlangsung di Indonesia…


Ini hari Pemilihan Umum (PEMILU). Oh, ya! Ini hari yang disebut orang sebagai pesta demokrasi dan aku tidak ikut di dalamnya. Ya, aku tidak berpartisipasi dalam PEMILU LEGISLATIF yang berlangsung hari ini… Maafkan aku, pemerintah..?! Tapi karena memang aku tidak berniat memilih, tak apa ya?? Lagi jika aku harus memilih aku harus kembali ke Serang dan menghabiskan anggaran sekitar Rp. 53.000 untuk ongkos perjalanannya. Dan itu salahmu pemerintah! Andai saja kau cerdas, mungkin aku hanya perlu mengeluarkan ongkos Rp. 10.000.- untuk perjalanan Serang-Jakarta. Tapi… Ah, Ini hanya PEMILU CALEG, jika hari-hari sebelumnya ada banyak orang yang bertanya padaku akan memilih atau tidak, maka aku jawab, “Biar keluarga dan saudara-saudara mereka sajalah yang memilih mereka…”. Mereka di DPR itu untuk mereka, dan bukan untuk rakyat! Selamat kepada mereka (caleg) yang telah mendapatkan pekerjaan baru, [yang aku tahu caleg berarti juga pengangguran].


Lalu, karena tidak memilih alias “golongan transparan”, maka waktu di hari ini aku gunakan untuk berkumpul bersama teman-teman mahasiswa dari ITB, UNPAD, UI, GUNDAR, UIN, LSM-LSM, dan dari kampus lain serta kalangan lainnya untuk membentuk suatu kepanitiaan yang bertugas menangani bantuan Psikososial bagi warga Situ Gintung yang terkena musibah. Rapat selesai jam 5 sore.


Malam harinya, karena aku makan siang di waktu sore selesai kumpul tadi, maka aku penuhi sedikit lagi lambungku sebagai ganti makan malam dengan ‘Bubur Kacang Hijau Madura”. O, ini enak sekali… aku rekomendasikan Bubur Kacang Hijau Madura yang satu ini untukmu. It’s so delicious!


Di bubur kacang ijo...

Aku memesan satu mangkuk bubur kacang ijo, dan tidak menunggu lama Bubur pun disajikan. Saat asyik menikmati bubur kacang ijo yang masih hangat, dua orang ibu-ibu datang sebagai pelanggan yang ingin juga ikut menikmati dahsyatnya rasa bubur kacang ijo... [Lby!] Salah seorang dari ibu itu memintaku bertukar tempat duduk.

“Mas, kayaknya kita bertukaran tempat ya? Di sini sempit untuk berdua“.

“Oh, ya Bu... silahkan“

Sambil menunggu bubur kacang ijo disajikan, salah seorang ibu bertanya pada Pak penjual bubur.

“Pak, udah liat hasil pemilu legislatif, siapa yang menang?“

“Engga tau Bu..” jawab Pak bubur sambil menyiapkan bubur2 pesanan.

“Mas, udah liat?” ibu itu bertanya kepadaku.

“Demokrat yang menang Bu“ seruku.

“O..Berapa persen itu?“

“Tadi yang saya liat 20 %, kedua Golkar 14 %, di bawahnya PDI, tapi itu belum 100 % suara yang masuk, masih sekitar 70%-an“

“Wah.. Demokrat menang...“

“SBY jadi presiden lagi ni“ Pak bubur menyahut.

“Kalo SBY jadi presiden lagi, harga mahal... Engga kuat untuk pedagang...“ seru ibu pelanggan.

“Iya kita pedagang jadi susah, harga bubur ini aja udah naik lagi“ jelas Pak bubur.

“Tapi kalo SBY jadi presiden, guru-guru ma dosen untung... Sekarang kan ada sertifikasi buat guru-guru, itu kemaren di UIN aja baru sertifikasi...“

“O. Yang sekitar 2000 guru itu bu ya?“ tanyaku.

“Iya, yaa orang pendidikan senenglah kalo SBY presidennya, derajatnya naik sebagai guru“

“Tapi mau presiden ato caleg, tetep aja rakyat mah kayak gini Bu...“ ibu yang satunya lagi ikut berkomentar.

“Iya yang ada malah kita bingung milih caleg, apalagi milih presiden nanti ya? Semuanya sama aja...“ tambah Pak bubur.

“Yaa itu pasti, kita jadi bingung milih siapa...“

“Mas, tadi ikut nyoblos?“ tanya Ibu pelanggan

”O, engga bu, biarin ajalah keluarga mereka yang milih mereka Bu... Ibu?“

“Saya kan dari kalimantan, jadi engga mungkin kalo harus pulang cuma untuk nyoblos”

“Iya sama aja Bu, saya juga harus pulang kalau mau nyoblos, biarin aja lah caleg ato capresnya siapa, biar diri kita masing-masing aja yang jadi presiden, kan sama aja rakyat kayak gini siapa pun presidennya. Ha...“

“Iya, susah dipercaya pemimpin kita sekarang nih..“


Tak terasa bubur kacang ijo yang kita santap mulai habis, aku lebih dulu habis karena lebih dulu datang, sehingga hanya air teh dalam gelas yang menemani akhir2 pembicaraanku tadi.

“Mari Bu saya pulang duluan..“

“O ya silahkan...“ jawab mereka.


Maka aku segera beranjak pergi meninggalkan bubur kacang ijo yang sesaat menjadi ruang diskusi bagiku, tentunya setelah aku membayar bubur kacang ijo yang aku pesan tadi.


Dan kesimpulan dari obrolan itu adalah, “Biar kita sajalah yang menjadi presiden untuk diri kita, karena itu lebih meyakinkan, dan lebih menjamin masa depan kita dan bangsa!“. Itu demokrasi yang terjadi di bubur kacang ijo. Tapi dari obrolan itu yang membuatku berpikir adalah, betapa berartinya sebuah informasi.. Kamu tahu? Bahwa aku baru melihat informasi tentang hasil pemilu legislatif adalah satu jam sebelum terlibat obrolan dengan ibu-ibu dan Pak bubur itu..

Hm, ternyata hobiku membaca informasi bermanfaat bagi komunikasi interpersonal. Hhaha,, B)

[www.lebay.com]


HIDUP PRESIDEN DIRI SENDIRI!! :D

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Catatan dari Gintung...


Perbuat Apa yang Bisa Diperbuat karena Diam Bukan Pilihan!

Senin, 30 Maret 2009


Satu sore aku berjalan-jalan mengitari danau itu, airnya tenang dan suasananya menyejukkan... Dua sore aku kembali ke danau itu, airnya ganas dan suasananya mencekam..!! O, Situ Gintung telah berubah!



Malam ini aku baru tiba dari Situ Gintung...

Ada perasaan haru dan sedih, namun ada kebahagiaan juga yang menyelimuti karena bisa berbuat... Sejak Situ Gintung memakan korban pada Jum’at (27/3), atau tiga hari lalu, aku selalu ‘gregetan‘ untuk sesegera mungkin dapat melihat dan berbuat bagi mereka yang terkena musibah. Ya, karena jarak Situ Gintung dan kosan cukup dekat, tidak lebih dari satu kilometer, bahkan danaunya terlihat jelas berada tepat di belakang kampus.


Namun rasa ‘gregetan‘ itu harus aku pupuskan untuk beberapa hari, karena aku masih berada di rumah ketika situ Gintung itu mengalami musibah. Dan hal lainnya karena sehari sebelum musibah itu terjadi, aku baru keluar dari Rumah Sakit setelah lima hari dirawat. Tapi kemudian aku pikir tidak menjadi hal bodoh yang aku lakukan jika hari ini atau tepat empat hari sejak keluar dari Rumah Sakit, aku dan Fajar membantu warga Situ Gintung membuat aliran air di samping rumah salah seorang warga dengan menggunakan pacul, sekop dan alat penggali lain. =0


Masuk ke Situ Gintung

Hari Senin jam dua siang itu cuaca tidak begitu terik, langit Ciputat justru tampak mendung seperti hari-hari sebelumnya. Aku dan Fajar dalam perjalanan menuju lokasi bencana Situ Gintung, atau tepatnya menuju kampus UMJ yang menjadi posko utama bencana Situ Gintung. Turun dari angkot, kami berjalan masuk menuju lokasi, tapi ternyata jalan masuk ditutup untuk umum dan dijaga ketat dengan sebuah tulisan diacungkan oleh salah seorang penjaga: “Sedang ada evakuasi korban!“.


Bingung, kami mencari jalan lain agar bisa masuk. Lagi-lagi ditutup!

Memang sejak tanggulnya jebol dan memakan korban jiwa hingga angka seratus, Situ Gintung menjadi fenomena, dan aku tidak menyangka dalam hitungan jam seluruh warga Indonesia tahu tentang Situ Gintung. Sehingga aku melihat sendiri ratusan orang berbondong-bondong ingin melihat secara langsung lokasi bencana.


Akhirnya aku dan Fajar masuk melalui sebuah gang kecil, aku pikir ini yang memungkinkan untuk menuju lokasi bencana. Lalu aku melihat banyak posko yang berdiri di sekitar rumah warga, posko dari organisasi masa, media, organisasi mahasiswa, produk, dan banyak lagi. Di posko kesehatan UIN aku melihat ada Sobir (teman kosan lama), kami sempat bertegur sapa namun segera aku dan Fajar melanjutkan perjalanan menuju lokasi lebih dekat lagi. Dan baru beberapa langkah berjalan, rupanya jalan menuju lokasi di sekitar itu juga dijaga cukup ketat! Bahkan salah seorang penjaga mengumumkan melalui speaker: “Kepada masyarakat yang ingin masuk ke lokasi, lebih baik pulang saja...“


Ah, aku terpatung bersama Fajar karena lagi-lagi tidak bisa memasuki lokasi.

“Gimana Jar?“

“Kita ke posko aja baL, minta masker ma sarung tangan ke Sobir“

“Ok tu, ne gw coba sms aja dulu“

Sms balesan sobir: Kadieu we bal (ke sini aja bal!)


Setelah bangga bisa mendapatkan masker dan sarung tangan, kita masih bingung karena tidak mempunyai tanda pengenal sebagai tiket masuk. Uh…

“Jar ambil pacul itu aja jar biar bisa masuk”, aku menunjuk beberapa pacul di posko PKS di samping jalan masuk yang tampak hanya menjadi pacul2 pajangan.

“Pak kita butuh pacul untuk dibawah”.

“O, silahkan.. Dari mana ini??”


Kita Bingung!


“Dari posko atas pak“ seruku.

“Atas yang mana ya??“

“........“

“UIN pak“

“O, ya silahkan, silahkan…“

Tampaknya Bapak ini juga bingung siapa kita.

Hahahahaha….. =D


Masuknyalah awak bareng Fajar, tapi lewat samping jalan masuk yang kadang lengah tidak terlihat oleh penjaga. Tapi rupanya penjagaan itu berlapis, ada penjaga lagi setelah melewati yang pertama. Dengan tampang cuek, bermodal masker di mulut, sarung tangan dan pacul dijinjing aku dan fajar masuk, dan rupanya kami diteriaki salah seorang penjaga melalui speakernya: “Nah, kalo bawa pacul boleh masuk…!!

Hahahahaha…. =D


Beberapa langkah setelah masuk, akhirnya kami bisa melihat langsung bagaimana akibat yang ditimbulkan oleh Situ Gintung setelah menjadi bencana. Walau di sini hanya terjadi sedikit kerusakan, tapi cukup memilukan…


Dan tak berapa lama, aku dan Fajar bergabung bersama warga dan relawan yang sedang membersihkan jalan, menggunakan pacul kami membuang lumpur dari jalanan ke pinggirannya. Hanya sekitar 5 menit, aku lantas mengajak Fajar untuk masuk lebih dalam lagi ke lokasi bencana. Pertama karena kami ingin lebih jelas melihat dampak bencana, dan kedua karena mungkin warga di dalam lebih membutuhkan bantuan.

Menjadi pemandangan absurd bagi orang lain yang melihat kami.

Manusia gendut bersama kawannya menggunakan masker dan sarung tangan berjalan-jalan di sekitar lokasi bencana sambil menenteng pacul. Hanya berdua! Relawankah?? Hehehe...

“Dut, kita kayak orang bego jalan-jalan gini, bawa-bawa pacul ga jelas mau macul apaan“

“Hehehe…” gendut Fajar cuma nyengir.

“Sok banyak ide pula kita ni dut, pake masker, sarung tangan ma pinjem pacul biar bisa masuk, kaya iklan A Mild ya yang banyak ide ya??!…”

Hahahahaha…=D Ngakak kita…..!!


Kami terus berjalan, melewati kampus UMJ, melewati penjagaan lapis berikutnya, melewati garis polisi, melewati tiga rumah warga…. dan,

Ow..


-Gintung tiga hari setelah musibah terjadi-

Sebuah pemandangan terhampar jelas di depan mata. Bencana Situ Gintung!!

Seperti sebuah lapangan yang rusak, datar dan rata dengan tanah, tak ada bangunan atau pohon yang berdiri, kecuali pohon pada sisi-sisinya… sebuah aliran sungai kecil terbentuk dengan airnya yang hitam... Itulah aliran air dari Situ Gintung... Aku tak bisa membayangkan bagaimana ketika tepat musibah itu terjadi.


Kami terus berjalan diantara puing bangunan, mendekat menuju jebolnya tanggul Situ Gintung sambil masih menenteng pacul dan memakai masker! Tiba-tiba kami mencium bau menyengat, mungkin bau mayat... Kami mendekat menuju beberapa orang yang berkerumun menyaksikan dua orang relawan yang sedang menusuk-nusuk tanah dengan kayu yang cukup panjang. Mereka memang sedang mencari tahu apakah bau itu berasal dari korban yang belum ditemukan. Lantas aku berpikir, “Seperti inikah bau mayat??“

Tapi tak lama kemudian kami berjalan kembali menuju tanggul Situ Gintung yang pecah. Dan tak berapa jauh dari lokasi yang menimbulkan bau menyengat, beberapa orang dari arah rumah-rumah yang selamat dari bencana memanggil,

“Mas, mas!! Mau kemana???! Di sini aja maculnya bantuin kita...??!!“

“Jar, ayo jar ke sana“ seruku pada Fajar.

“O, ya bang...!!“ jawabku pada beberapa orang yang memanggil tadi, tampaknya mereka sedang membersihkan puing-puing. Jaraknya sekitar 40 meter dari tempat kami berdiri.


Kami sebetulnya kaget kenapa mereka berteriak memanggil, ternyata aku dan fajar nyaris lupa kalau di tangan kami tergenggam pacul...!! Hhahaa.. :D

“Ini mas bantuin kita buat aliran air, jadi penyakit kalo air di sini ngegenang, kalo nunggu deco lama. Tadi mau ke mana emangnya mas?“. Jelas mereka setelah mendekat. (Deco: mobil pengeruk puing2-red).

“O, ya bang. Tadi, kita mau ke arah tanggul. Ya..nyari apa yang bisa dibantu. Ya kita bantuin di sini aja bang“.


Maka aku dan Fajar bersama sekitar empat orang warga mulai menggali tanah membuat aliran air di dekat rumah-rumah warga yang selamat dari bencana.

“Jar, ini nih yang gw pengen, baru kerasa bantuin warga Situ Gintung kalo terjun langsung kayak gini daripada di posko.“

“Yoha... gw juga mikir gitu cuy!!“

Sedikit demi sedikit tanah di antara puing-puing yang hancur kami gali, dengan maksud akan terbentuk aliran air dari rumah2 warga yang selamat.. Aku sendiri terus berusaha mengumpulkan tenaga baru di antara jengkal tanah yang aku gali, berharap dapat membantu semaksimal mungkin karena tenagaku sepertinya belum cukup pulih karena tersita di rumah sakit 4 hari lalu.. Sambil mencangkul, sesekali aku dan Fajar menanyakan pada warga yang selamat tentang musibah ini, “Mas, gimana kejadianya...?? Mas lagi dimana waktu kejadian??“ dll. Itu tidak tampak seperti tanya-jawab, karena kami sama-sama sedang memacul.


Di antara letih yang terasa, aku merasa bersyukur masih menjadi manusia yang diberi umur panjang, saudara2 lain di tanah Gintung ini ada yang lebih dulu dipanggil Tuhan... Innalillahiwainnailaihi raji’un...


Di antara pekerjaan itu kami juga sesekali minum dan melahap sebungkus roti bantuan dari relawan lain, menjadi kebahagiaan yang luar biasa bisa berada di antara warga dan bergotong royong bersama-sama... Tapi hari mulai senja ketika galian aliran air mulai terbentuk dan bisa mengairi air. Saat itu sudah pukul 5 sore, atau sudah sekitar 3 jam kita memacul. Akhirnya kita semua sepakat untuk mengakhiri pekerjaan. Tapi sebelum pulang, kami semua diharuskan makan terlebih dahulu. Maka sebungkus nasi dengan lauk yang diberikan oleh relawan-relawan menjadi pelengkap kebahagiaan kami sore itu. Di antara relawan dan warga yang tengah makan nasi bungkus, hadir juga pak RT, beliau menjadi ketua RT 01 di Gintung. Ketika subuh sebelum musibah terjadi, belaiu dikabari oleh salah seorang warga bahwa Situ Gintung akan jebol. Maka dalam keadaan langit yang gelap, beliau membangunkan warga2 Situ Gintung yang sempat ia bangunkan. Untuk sesaat Pak RT ini adalah pahlawan bagi warga Gintung.


Di tengah lahapnya nasi bungkus yang kami makan, pak RT nyeletuk, “Emang kalo udah capek, makan itu nikmat dengan apa aja...“. “Hhehe...iya pak!“.

Senja tiba, aku dan Fajar berpamitan...


Sebelum meninggalkan Gintung kami ingin lebih dekat mengetahui lokasi jebolnya tanggul. Maka Aku dan Fajar berjalan menuju pusat jebolnya tanggul Situ Gintung. Di antara reruntuhan bencana, aku lihat tidak sedikit manusia yang berkungjung ingin menyaksian musibah ini. Bahkan tidak sekali melihat manusia-manusia yang datang ke lokasi hanya untuk foto-foto. Mungkin bagi mereka itu kebanggaan! Tanpa sadar kebanggan itu dibayar oleh seratus lebih orang yang meninggal akibat bencana ini...

Suhanallah..


Besar sekali jebolnya penahan danau Situ Gintung itu. Sementara di belakangku masih berdiri tegak sebuah masjid yang tidak rusak oleh air bah dari Situ Gintung. Subhanallah..


Merasa cukup melihat keadaan yang sesungguhnya dari musibah Situ Gintung, aku dan fajar pun akhirnya meninggalkan lokasi dengan kembali menyusuri puing-puing bencana yang sudah tampak seperti sebuah lapangan tak terawat. Sebelum keluar lokasi, kami tak lupa mengembalikan pacul yang kami pinjam dari posko PKS, tapi ya pasti bisa dimaklum, pacul kembali dalam keadaan yang tidak utuh alias gagang dan besinya terpisah... He,


Di ujung gang keluar dari lokasi bencana Situ Gintung di mana berlalu-lalang kendaraan, aku dan Fajar yang masih menggunakan masker dan berpakaian sangat kotor, sesaat tampak seperti artis yang diperhatikan oleh orang-orang dari kendaraan mereka. “Wah... ada artis tu dari Situ Gintung...“ begitulah mungkin teriak salah seorang penumpang angkot yang melintas di depan kami. Hhe...


Wajarlah karena memang bencana Situ Gintung sangat menyedot perhatian masyarakat luas, dan tidak semua orang mendapat akses masuk menuju lokasi, sehingga siapapun yang terlibat dalam bantuan Situ Gintung menjadi sorot perhatian. Saat itu padahal kami berdiri di depan gang hanya untuk sedikit berdiskusi konyol, “Angkot yang mana ne Jar yang kita naikin???“ He.


Di kosan...

“Cuy, ada kamera??? Gw lupa ke Situ Gintung ga bawa kamera, pinjem donk ne mumpung masih kotor-kotor, mu gw post di blogs cuy.... Ciiessstttt....!!!





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS