Sastra Psikologi
Essai
Menjadi Mahasiswa Psikologi
Oleh:Muhammad Iqbal
Izinkan aku merangkum pengalaman 3 tahun berkuliah dalam satu tulisan ini, tentang menjadi mahasiswa Psikologi. Karena melalui sharing kita akan sama-sama lebih mengerti..
Maha-siswa,
Dulu aku tidak pernah bisa membayangkan bagaimana rasanya memiliki title baru sebagai maha-siswa. Uh! Ini membuatku bingung tentang bagaimana jadinya jika saya berhasil menjadi mahasiswa. Karena yang ada saat akan masuk kampus hanyalah petuah orang tua yang berbunyi, “Sst!! Jangan ikut2an demo!!“, “Hati-hati Jaringan Liberal!!“ dll. Tapi, pada saatnya tiba aku menjadi mahasiswa, “Oh.. gini tho yang namanya kuliah?!!” Hah!! Bergelut dengan Psikologi: Kuliah-kosan, kuliah-organisasi, kuliah-maen, demo, liburan, kerja, pacaran.. dll. Lalu setelah 3 tahun ‘duduk‘ di kampus, kau jadi bertanya, “Apa ya yang dah didapat setelah 3 tahun berkuliah??“ ....
Hm.. Bingunglah saya menjawab ini..!! Karena rasanya ini hanya tentang menjalani hidup, hampa euy! Jika kalian bertanya pada saya tentang PSIKOLOGI, ya mungkin saya bisa menjelaskannya, dari mulai sejarah, teori, metodologi, sampai aplikasi... Tapi rasanya bukan penjelasan psikologi yang saya inginkan! Lalu jika kalian bertanya pada saya tentang organisasi, ya mungkin juga saya dapat menjawabnya, dari hal membuat porgram, pembentukan struktur sampai membuat event besar. Tapi sepertinya bukan hal ini pula yang saya inginkan..
Ada cita-cita, harapan, idealisme dan apalah itu namanya yang jauh lebih besar yang harus didapat jika seandainya saya menghabiskan beberapa waktu untuk berkuliah... (Kita tidak pernah tahu betapa berharganya kuliah karena kita tidak mau tahu betapa sulitnya orang lain yang ingin berkuliah). Tentu kita sama-sama tahu tentang orang tua yang mempekerjakan anaknya setelah tamat dari SMA karena tidak ada biaya untuk anaknya berkuliah? Dan tentang pengangguran yang melintas melewati gedung kampus tanpa pernah bisa merasakan ‘nikmatnya‘ berkuliah‘?? Ya maka beruntunglah kita dapat menikmati ‘indahnya‘ kuliah.. Tapi sepertinya kita menjadi manusia paling rugi jika kita berkuliah tanpa pernah memiliki harapan atau pencapaian!?
Kita tidak sedang membahas bahwa ada di antara kita yang terjebak, terdampar, terpaksa atau coba-coba berkuliah di Psikologi, karena apapun itu, yang pasti adalah saya, kamu dan yang lainnya adalah orang-orang yang sudah terkotak dalam ruang bernama Psikologi, jadi mau tidak mau berada di kampus ini harus memiliki harapan!
Saya akan jujur tentang harapan saya untuk alasan mengapa saya membuang waktu selama 4 tahun di kampus ini. Saya ingin menjadi ilmuwan psikologi (usai S1&S2), saya ingin skripsi saya menjadi buku, saya harus memiliki keterampilan khusus dalam psikologi (Ex; Hipnosis/grafologis/menafsirkan mimpi, etc), saya harus mengajak kawan2 saya untuk lebih banyak berdiskusi dan berliterasi, dan saya perlu pengalaman luar biasa sebagai mahasiswa (mendaki gunung/menjadi demonstran/ menginjak tanah terjauh di Indonesia) dll.
Sebagian harapan itu telah saya capai, dan saya perlu mencapai yang lain.. Jikalah tidak tercapai, saya tetap bangga karena saya pernah memiliki harapan. Lalu, bolehkah saya tahu apa HARAPAN kawan2??
Pada akhirnya, kita perlu menemukan lebih dalam apa sesungguhnya yang ingin kita harapkan ketika kita menentukan pilihan untuk membuang waktu cukup lama di kampus ini. Jika hanya berkuliah lalu menggeluti absen & tugas di kelas selama 4 tahun, dan akhirnya bisa kerja karena S1, rasanya semua orang bisa melakukan ini..
Ini tentang memberi manfaat sebanyak-banyaknya kepada orang lain, dan tentang menemukan makna.. Saya hanya khawatir dengan apa yang disebut oleh Victor Frankl sebagai ‘kehampaan eksistensial’. Hampa, hampa, hampa........
-Desember 2009-
Sebuah sajak bagi kampus
“Countertrasferensi Ilmu”
Oleh: Muhammad Iqbal
Masa depan itu bernama kampus berlantai 4..
Pengetahuan itu bernam absen..
Pemahaman itu bernama pilihan ganda..
Keberhasilan itu bernama teman pintar..
Penglaman itu bernama waktu di kampus..
Dan kecerdasan itu bernama makalah..
Aku menjadi seperti apa kata dosenku!
“Menjadi skizofren“
Oleh: Muhammad Iqbal
Biarkan aku menjadi skizofren!
Aku ingin tahu rasanya menjadi skizofren
Biarkan aku menjadi autis!
Aku ingin tahu malunya menjadi autis
Biarkan aku mengalami trauma!
Aku ingin tahu pedihnya mengalami trauma
Biarkan aku menjadi..!!
Karena kau tak percya pada dosen dan pada buku!
------
*Di bawah langit kosan pak Syarif, Otober 2009
501
Jum’at: Juli 17, 2009
02:30 am. [Jam 2 malam!]
Ini sudah sangat malam, tentu sudah waktunya tidur.. Tapi entah mengapa malam menjadi sahabat terbaik bagiku, sehingga bagiku ‘tidurlah hanya jika mengantuk’. o,O
Ini belum ngantuk, tapi seharusnya cukup lelah karena pekerjaan.. Pekerjaan? Ya, aku memang bekerja… Aku bekerja [part time] untuk mengisi liburan semester ini. Jika pada liburan semester2 sebelumnya diisi dengan menjadi wartawan, atau mempersiapakan kegiatan di kampus, atau hanya sekedar perbaikan gizi dan mengikuti episode film Avatar di rumah, maka semester ini aku dapat magang di salah satu Toko Jeans di Serang, atau satu-satunya toko/dealer resmi Levi’s di Banten.. Toko Krakatau!
Ini menjadi pengalaman unik dan menarik untuk dibagikan! Let’s share..
Ini membuatku senang dan bangga bisa menjadi karyawan di Jeans Store.
Sudah dua minggu atau tepatnya 15 hari aku bekerja di toko Jean’s ini.. Pekerjaan disini tidak berat, hanya menjaga toko, ya kira-kira hanya itu.. Mengapa aku bisa magang di sini? Ya itu tidak lain karena pemilik toko masih teman Bapakku dan kebetulan toko ini sedang membutuhkan karyawan.. :D Aku mulai bekerja seminggu sejak libur kuliah. Pada hari di mana aku minta izin untuk bisa dapat pengalaman bekerja [melamar-red], maka pada hari itu juga aku dipersilahkan untuk bekerja oleh pemilik toko.. Di toko ini ada dua macam karyawan, karyawan yang tinggal di dalam dan yang tinggal di luar. Aku termasuk karyawan yang tinggal di luar dan ada 3 orang lainnya yang sama denganku. Karyawan luar menerima gaji tiap hari, dan bekerja 8 jam sehari, bekerja berdasarkan sift yaitu jam 09.00-18.00 dan 13.00-21.30,,
Awal menginjak toko ini aku bingung, benar-benar bingung...!!
Banyak sekali tumpukan celana di rak, etalase, ato yang digantung dengan berbagai macam brand. Dari sekian banyak itu aku hanya mengenal Levi’s dan Lea.. Itu pun hanya kenal merk.. Lainnya ada Wrangler, Lois, Lee Cooper, Jimmy Martin & Cardinal.. Ini menjadi tantangan tersendiri karena aku harus belajar cepat mengenali barang-barang ini.. :O
Oya, Toko Krakatau ini sudah sangat lama berdiri kira-kira sudah 30 tahun.. Sehingga sudah cukup banyak memiliki pelanggan.. Orang-orang (termasuk aku) mengenal toko ini sebagai toko dengan barang-barangnya yang mahal! Ya, wajar saja, setelah aku menjadi karyawan di sini aku baru mengerti mengapa barang2nya didominasi oleh barang2 yang harganya relatif mahal.. Semua barang yang dijual di sini adalah produk ASLI, jadi jangan kaget kalo ada 1 celana yang dibandrol dengan harga Rp. 699.999.- itu Levi’s seri 501.. atau kemeja seharga Rp. 500.000.- itu kemeja L’eone Uomo. Karena harga2nya yang mahal, tentu toko ini diperuntukkan bagi orang-orang dengan budget yang cukup besar.. Tentunya beda kelas dengan toko-toko lain yang harganya bisa dijangkau oleh kelas manapun.. Maka yang menjadi pelanggan toko ini tak lain adalah pejabat, pengusaha, pedagang, hingga bupati.. (Tanpa mengecualikan masyarakat biasa). Dan sekali waktu aku pernah melayani keluarga Bupati Serang berbelanja di sini..
Seperti halnya toko-toko lainnya, toko ini juga mempunyai service tersendiri yang berbeda dan menarik di bangin yang lainnya. Misalnya, setiap pembelian celana gratis potong jika terlalu panjang, lalu setiap uang kembalian dari toko ini akan berupa uang baru, dan lainnya keamanan toko ini terjamin, karena keamanan toko ini dikenal orang selalu dijaga oleh orang2 yang capable dalam hal kemanan, diantaranya: mantan TNI, Polisi atau “Jawara“ [dalam tanda petik].
Toko Karakatau tidak begitu besar, hanya satu lantai, tapi di sebelahnya berdiri toko ‘Anak Krakatau‘, itu toko yang menyedikan pakaian bagi anak-anak dan wanita. Sistem yang diterapkan di toko ini cukup ketat, khususnya bagi karyawan luar.. Ada beberapa peraturan yang tidak boleh dilanggar, seperti tidak boleh makan di dalam toko atau ke luar saat bekerja. Dan yang menarik adalah adanya sistem bonus. Nah, ini dia! Selain gaji aku dan yang lainnya mendapatkan tambahan dari bonus harian, itu adalah bonus dari penjualan.. Misal jika aku menjual jeans seharga 699.999.- maka bonusnya 7.000.- atau jeans seharga 320.000.- bonusnya 4.000.- Semua penjualan perhari diakumulasikan, dan dihitung berapa bonusnya.. Bonus sehari terkecil yang pernah aku dapatkan 2.000.- dan paling besar 50.000.- Jika ditambah dengan gaji harian itu sudah sangat lumayan..!! Baru kali ini aku benar-benar bekerja dengan penghasilan yang cukup, tiap hari aku mendapatkan gaji dan bonus, jika diakumulasikan ya kira-kira untuk 2 bulan aku sudah bisa lebih dari sekedar membayar kuliah.. Alhamdulillah.. :D
Sisi lain pekerjaan..
Karena bekerja ini aku sedikit melupakan kuliah, belajar maksudku.. Belajar tentang materi perkuliahan.. Bekerja 8 jam sehari cukup membuatku letih, sisa waktu bekerja hanya sempat untuk tidur, makan, fesbukan, dan menonton TV.. Komunikasi dengan teman2 pun berkurang, fesbuk pun hanya sekedar untuk mengganti status, selebihnya mencari informasi dari kawan2.. Karena bekerja juga sepertinya yang menjadikan porsi makanku jadi berkurang, ini karena selama bekerja hanya boleh makan sekali waktu saja.. Padahal niatnya liburan ini akan ada perbaikan gizi dan otak, tapi ternyata seminggu setelah liburan aku sudah bekerja.. Jadi berubahlah rencananya. Ya.. ada baik dan buruknya memang.
Dari bekerja juga aku jadi mengerti, ini tentang pelajaran moral yang aku dapatkan! Mengapa ada orang yang hobi berbelanja dan mengapa ada yang tidak??? Khususnya wanita mungkin?? Tau mengapa?? Jawabannya mudah sekali, karena orang yang hobi berbelanja mereka punya cukup uang untuk berbelanja, sedangkan orang yang tidak punya hobi belanja mereka tidak punya cukup uang..! Hhahaha.. :D
Aku menjadi mengerti hal ini karena ini sedikit terjadi padaku, belakangan aku jadi hobi berbelanja. Hahaha.. :D Ya atau sekedar betah berlama-lama di mall, toko, atau tempat2 berbelanja semacam alfa midi atau alfamart.. Lainnya mengajak adik2ku bermain ke pameran, membelanjakan sedikit penghasilan dan semacamnya.. >,o “Hati-hati! Jika kamu memiliki banyak uang, jangan sempatkan dirimu untuk berkunjung ke tempat berbelanja jika tidak ada kebutuhan yang sangat mendesak!“ :D
Kesimpulannya, tentu karena bekerja aku jadi lebih mandiri dan bisa lebih berbagi dengan yang lain.
Inilah dunia kerja, dunia yang mengajarkanmu kedewasaan dan kemandirian, dan pada waktu di mana untuk sejenak kamu melupakan sisi lain dari kehidupan... ayoO bekerJa...!! =D
Ilusi di Kampus
“3 Meter Dari Tempat Kamu Belajar!“
Oleh: Muhammad Iqbal
Ini tentang keseharianku, keseharianmu dan keseharian ‘selain aku dan kamu‘. Tentang apa yang seharusnya dan apa yang tidak seharusnya. Tentang rutinitas dan tentang nilai rutinitas.
Lalu tentang apa jika aku, kamu dan selain aku dan kamu berbondong-bondong menuju pernikahan kerabat untuk mendapatkan kipas kecil yang akan kita gunakan karena AC di kampus belum juga terpasang?? Atau berbondong-bondong menuju Pasar Tanah Abang untuk juga mendapatkan kipas kecil karena pernikahan kerabat pada beberapa minggu ini tidak terlaksana. Tentang apakah kampus yang tak ber-AC??
O, ini [mungkin] hanya tentang anggaran, mungkin tentang waktu, tentang kesiapan, dan mungkin hanya tentang mahasiswa yang tak terbiasa dengan ruang yang tak Ber-AC. “Aku ga bisa belajar kalo ga ada AC..“. Tapi tak apalah, toh AC itu akan segera dipasang... Bukankah kau bisa melihat sendiri ada kabel AC [mungkin] yang tergantung 5 meter dari lantai tempat aku dan kamu belajar..??
O, itu kabel untuk AC?? Rasanya setahun lalu kita dikabari bahwa kampus kita akan segera dipasang AC, tapi jika aku tak salah menghitung ini sudah setahun... O, mungkin ukuran tahun kita dan tahun ‘selain aku dan kamu‘ itu berbeda.
Biarlah...Rupanya ini hanya tentang ilusi, menggantungkan ‘sesuatu‘ 5 meter dari tempat kamu dan aku belajar agar sama-sama kita persepsikan itu sebagai AC.. Ilusi!
Lalu tentang apakah kampus 4 lantai yang tak memiliki lift??
O, ini [mungkin] hanya tentang syarat, mungkin tentang aggaran, tentang waktu, atau mungkin hanya tentang mahasiswa yang tak terbiasa berolahraga... “Kampus harus 5 lantai kalo mau pasang lift“.
Nah, jadi biarlah... Kampus kita memang hanya 4 lantai tak bisa ditambah.
Toh itu sehat membiasakan aku, kamu dan selain aku dan kamu untuk berolahraga... Rupanya kampus ini selain mengajar kesehatan mental, juga tentang kesehatan fisik. Aku sepakat!
Lalu tentang apakah perpustakaan yang bukunya rusak dan tak terganti, tentang apakah lemari buku perpustakaan yang lengang karena tak ada tambahan buku?
(IMM menyumbangkan 15 buku psikologi untuk perpus tapi tak ada diperpus)
Tentang apakah kampus yang memperbaiki gedung namun tidak memperbaiki budaya mahasiswa...??
Tentang apakah......???
Dan tentang apakah....??
O, aku berlebih. Bukan itu semua inti pembicaraanku. Bukan tentang AC, Lift, atau tentang perpustakaan. Sungguh bukan itu! Karena yang aku tanyakan hanya satu dan hanya satu pertanyaan. Seperti hanya satunya pertanyaan mahasiswa…
Tentang apakah kampus megah namun sepi dari budaya intelektual?
Tak ada budaya diskusi…
tak ada budaya literasi…
Rasanya nafas mahasiswa tercium amis tanpa budaya intelektual!
Ini hanya tentang pembelajaran!
Bukankah dulu kita berharap akan ada perbaikan, peningkatan, dan pembelajaran jika kita telah menempati kampus yang baru…???
Padahal harapan itu realistis!
Aku sendiri dulu memiliki harapan, “jika kampus baru selesai, aku berharap akan ada banyak pojok diskusi, semacam halaqah atau kelompok2 diskusi. Walau hanya 2 orang...“. Sekarang, setelah kampus ini jadi, diresmikan, megah dan indah… Mengapa harapan kita pada budaya intelektual belum juga terwujud.
Padahal tinggal melakukannya!
Berharap akan dipasang AC atau lift jika kampus baru berdiri, itu bukan harapan..! Karena memang tak perlu berharap dan mengharapkan [seperti] itu..
Kini,
Saatnya kita menempati ruang-ruang lengang dikampus dengan diskusi dan literasi...
Mengisi rongga-rongga udara kampus dengan argumentasi dan teori..
Lalu menutup setiap celahnya dengan ibadah...
Olimpiade Psikologi 2009
“Psychology Competition 2009”
Catatan dari Olimpiade Psikologi 2009
Jum’at-Minggu, 8 – 10 Mei 2009
Pengetahuan yang baik selalu berisi pengalaman dan pengalaman yang baik selalu berisi pengetahuan... Saat itulah kita semua belajar...
Olimpiade Psikologi
Ini harus aku bagikan.. Ya, karena tak semua bisa ikut Olimpiade Psikologi di Universitas Kristen Maranatha Bandung. Jadi tentunya pengalaman ini harus aku bagikan dengan kawan-kawan yang lain, khususnya kawan2 di Kampus Psikologi UIN Jakarta sebagai sharing pengalaman dan pelajaran untuk mempersiapkan diri di ajang Kompetisi Psikologi tahun depan.
Psychology competition ini adalah yang kedua yang diikuti oleh Psikologi UIN JKT, tahun lalu Psikologi UIN mengirimkan satu tim dan berhasil berada di urutan 11 dari tim-tim Psikologi se-Jakarta-Bandung. Tahun ini Psikologi UIN mengirimkan dua tim, (UIN A: Bima, Andi, Ami & UIN B: Iqbal, Muti, Kory, pengganti: Isni). Lomba diadakan pada hari Sabtu-Minggu, terdiri dari 2 babak Penyisihan dan babak final.
Road to Competition..
Informasi tentang Kompetisi Psikologi 2009 ini masuk mading kampus sekitar 2 bulan sebelum hari H. Untuk menentukan siapa saja yang bisa jadi peserta di ajang tersebut sebagai perwakilan dari Psikologi UIN Jakarta, maka pihak kampus mengadakan seleksi 2 minggu sebelum hari-H.. [2 minggu sebelum hari-H? Telat!!]. Sekitar 30 mahasiswa yang secara tidak sengaja kesemuanya berasal dari angkatan 2006 mengikuti seleksi tersebut. Seleksinya cukup ketat dan sulit, yaitu tes pengetahuan dengan 100 soal Psikologi, tes kepribadian (DAP,BAUM), tes wawancara dan mengajukan CV lengkap dengan prestasi yang pernah diraih..
Senang setelah masuk dalam tim Psikologi UIN Jkt untuk Olimpiade Psikologi tahun ini, maka amunisi perang pun dipersiapkan.. Hari pertama kita ditugaskan untuk membuat 100 soal Psikologi. Keseriusan dan ketegangan mulai terasa selama pembuatan soal. [Perlu diketahui bahwa uji pengetahuan psikologi ini adalah seluruh materi psikologi dari awal hingga akhir yang dikuliahkan, Psikologi Perkembangan, Pendidikan, PIO, Sosial, Metodologi Penelitian, Klinis, dll.]
Tiada hari tanpa belajar, itu prinsipnya! Pagi kita belajar sambil menunggu dosen, siang hingga magrib bimbingan dengan dosen, dan malamnya dengan anggota tim di kosan.. Buku-buku Psikologi mulai bertumpuk di meja belajar, beberapa di antaranya perlu dirangkum dan diketik ulang. Tak ketinggalan tembok kamar pun mulai penuh dengan kertas-kertas berisi puluhan teori2 dan istilah2 dalam psikologi..
d’Competition..
Tim dari UIN yang berjumlah 7 orang berangkat menuju Bandung jam 9 hari Jumat menggunakan traveL. Yang mengurus semua keperluan kami adalah Ega (bendahara BEM), dan Pak Luthfi (Dosen pembimbing)..
14.00 p.m.
Aku dan kawan-kawan tiba di Hotel Geger Kalong Asri Bandung jam 2 siang. Setelah check in dan menempati kamar masing-masing (2 kamar untuk cowo & cewe), kita berniat mencari makan siang dan mengunjungi Maranatha sebelum lomba besok. “Agar tahu medan” begitu Bima bilang.
Tidak butuh waktu lama, hanya sekitar 10 menit kita sudah berada di tempat makan di depan Kampus Maranatha.. Makan siang di sini cukup enak dan murah.. Chicken Maryland dan Teh Poci seharga 11.500 mengisi perutku siang itu… Ondeh Mandeh… enak dan murah! Aku rekomendasikan tempat makan yang satu ini! Tapi hati2, karena di salah satu kiosnya ada juga yang juaL “Babi Kecap“!! Hehe...
Maranatha...
Universitas Kristen Maranatha lebih tepatnya. Aku pernah melihatnya sewaktu ke Bandung tiga tahun lalu, dan kali ini aku harus mengunjunginya... Kampusnya cukup besar, kalo tidak salah 3 gedung yang memiliki 10 lantai, dan gedung lainnya sekitar dua atau tiga lantai...
Kehadiran ‘makhluk‘ dari UIN di Kampus Maranatha siang bolong sepertinya cukup mencolok, Ya...secara jarang2 di Kampus Univ. Kristen Maranatha ada orang yang berkerudung.. Cukup stress juga ne mengunjungi Maranatha.. Yang paling membuat stress bukan karena kita “aneh“ di Kampus orang, tapi karena acara “biar tau medan“ ini cuma menyita waktu.. Aku pikir lebih baik untuk membahas soal atau belajar masing-masing untuk lomba besok. Tapi ya...sudahlah, toh karena mengunjungi Marantha ini juga akhirnya aku bisa bersilaturahmi dengan ATM BCA. :D
19.00 p.m.
Malam hari di tempat kami menginap, aku dan kawan-kawan mulai kembali bergelut dengan teori-teori Psikologi. Ini adalah saat-saat terakhir untuk belajar sebelum lomba besok pagi dimulai.. Seperti hari-hari sebelumnya, belajar kelompok ga cuma ngebahas teori-teori psikologi, tapi kadang kita bahas juga hal-hal yang ga penting...Hha.. Ini cuma untuk berngakak ria di tengah stress teori-teori Psikologi. Ya...biasanya bahasan ini keluar secara biadab dari mulut si’Nenek Ami yang kadang meracau karena serangan dementia retrogad.. Hha.. Pis nek!
23.00 p.m.
Sebelum terlelap tidur dengan ratusan teori Psikologi, jam 11 malam ini aku sempatkan terlebih dahulu untuk melihat aksi bang Limbad di Final d’MASTER RCTI.. Hhe, Ga ketinggalan aku beri dukungan juga untuk beliau.. [MR LIMBAD]. Tapi sayang, di akhir penentuan jagoanku kalah... Hik’s… ;( Hhe.. Dah lah, bisa nonton aja dah seneng.. o,O
Sabtu, 9 Mei ‘09
Ini hari yang ditunggu.. Psychology Competition se-Jawa.
Lomba diadakan di Gedung Serba Guna Kampus Maranatha. Kami datang pagi-pagi sekali menuju kampus Maranatha, sehingga GSG masih tampak lengang sejak kami datang. Namun lomba dimulai sesuai dengan jam yang dijanjikan. Seluruh peserta dengan berbagai almamater yang mereka pakai telah berkumpul untuk sama-sama menguji pengetahun di olimpiade psikologi tahun ini.
Dan… Babak pertama dimulai.. “At The Beginning!!”. Seluruh peserta diminta untuk duduk berdasarkan nomor yang telah ditentukan. Pada babak ini setiap individu [bukan per-tim] akan diuji pengetahuannya dengan diberikan 60 soal psikologi yang dikerjakan selama 45 menit. Nilai per individu akan diakumulasikan menjadi nilai kelompok. Dan 20 besar akan masuk ke babak berikutnya..
Soal terselesaikan sudah. Dari 60 soal aku hanya yakin mengerjakan benar sekitar 65%. Semua soal yang keluar tersebut adalah materi2 Psikologi yang memang aku kenal, namun beberapanya aku lupa dan ada beberapa istilah dalam soal yang aku dan kawan2ku pun tidak mengenalnya.
Saat-saat menegangkan adalah saat pengumuman kelompok mana yang berhasil masuk ke babak selanjutnya. Dari 32 yang hanya akan diambil 20 tim..!! Dan, Alhamdulillah... Tim UIN B berhasil masuk! Kita ada di urutan 11 dari 32 tim se-Jawa. Sementara di urutan 12 ada UGM 1. Aku, Kori dan Muti sejenak bisa menghela nafas karena bisa lanjut ke babak selanjutnya. TIM UIN A belum berhasil.. Di antara yang gagal ada jugaUNPAD B atau BINUS dll..
Babak selanjutnya adalah “Thank God I Found You”. Pada babak ini setiap tim diberikan kertas berisi huruf-huruf yang membentuk kata tertentu di dalam kotak yang menjadi lembar jawaban. Tim diberikan 40 soal yang harus dikerjakan dalam waktu 60 menit. Cara menjawabnya adalah dengan memberi warna pada kata yang menjadi jawaban di lembar jawab. Pada babak ini kesulitannya bukan hanya pada menjawab soal-soal, melainkan harus menemukan jawaban berupa kata yang tersembunyi di antara ratusan huruf-huruf di dalam kotak lembar jawab. Dari 40 soal, jika tidak salah kita berhasil mengerjakan 33 soal.. 10 tim terbaik berhak maju ke babak selanjutnya.
Saat mengerjakan soal pada babak kedua ini, dari tempat kami mengerjakan soal, aku melihat kawan2 kampusku tiba di GSG Maranatha untuk memberikan support. Oh, ini kejutan..!! Jauh-jauh mereka datang dari Jakarta menuju Bandung hanya untuk menyaksikan kami bertanding. Untungnya saat mereka datang aku dan yang lain masih berada di arena pertandingan.. Ada sekitar 10 orang yang datang.
Pengumuman dari babak 2, TIM UIN B GAGAL masuk ke babak selanjutnya... Ah, ini cukup membuat kami kecewa, karena sesungguhnya kami menyiapkan diri hingga babak akhir.. Tapi apapun hasilnya harus kita terima. Kita belum berhasil.. Yang bisa dibanggakan adalah kita berhasil berada di urutan 11 dari tim-tim Psikologi se-Jawa. [Aku masih ingat ada satu tim yang berasal dari Jawa Timur tapi ia gagal di babak pertama]. Sepatutnya kita harus bersyukur dengan hasil ini..
Selanjutnya kami hanya menyaksikan tim yang berhasil masuk 10 besar bertanding di babak berikutnya. Saat menyaksikan tim kampus lain bertanding, datang lagi 3 orang teman kampusku yang juga ingin memberikan dukungan pada kami, tapi sayang kali ini kami tidak lagi berada di arena pertandingan. Padahal mereka datang menggunakan bus dari Jakarta..
Ba’da dhuhur seusai makan siang dan berfoto ria di kampus Maranatha, aku dan seluruh rombongan segera bersiap untuk kembali ke Jakarta. O, aku terpikir untuk sejenak berada di Kota Bandung sebelum kembali ke Jakarta, mungkin untuk mengunjungi teman atau hanya sekedar berjalan-jalan. Bingung!, karena ini juga tentang budget! Hhe. Semua rombongan telah bersiap di dalam mobil. Oh, 3 orang temanku yang datang belakangan tidak bisa bergabung dalam mobil ini, kecuali jika aku jadi bermain di Kota Bandung dan pulang sendiri, mereka mungkin bisa ikut untuk pulang bersama-sama dengan rombongan. Di saat bingung menentukan bermain dulu di Bandung atau pulang bersama-sama, 3 orang temanku itu telah izin lebih dulu agar mereka pulang sendiri. Ah, segera aku keluar dari dalam mobil dan pamit untuk pulang sendiri juga dengan alasan ada teman yang menunggu. Aku berjalan menjauh rombongan yang akan segera pulang lalu aku menyebrang jalan. Tak berapa lama rombongan pun pergi meninggalkan kampus Maranatha.
[Ini bukan karena sungguh2 aku ingin bermain dulu di Bandung, tapi tentang ketiga orang temanku yang bersusah payah datang ke Bandung menggunakan bisa umum, ternyata hanya untuk melihat aku dan yang lainnya duduk menyaksikan tim2 kampus lain bertanding, karena kami telah kalah lebih dulu. Ah, rasanya sia-sia dan membuat mereka kecewa..] Segera setelah aku berdiri sendiri meninggalkan rombongan yang pergi menuju jakarta, aku mengirimkan sms ke salah satu dari 3 orang temanku itu: “Cuy, gimana kalo besok kita adventure di kereta? Ne awak mu ke rumah temen di Antapani.. Besok Insya Allah k tmn di UIN Bdg. Nah, kalo u pada masih di UIN, mungkin kita bisa pulang bareng..” 03:34 pm ---- ”Kenapa ga pulang bareng yang lain bal? Ya dah ketemu besok..” jawab mereka.
Berdiri di pinggir jalan dan masih belum menentukan tujuan hendak ke mana, karena tak ada janji untuk mengunjungi rumah sahabat atau apapun. Antapani tadi hanya mengira2 karena dia paling memungkinkan untuk dikunjungi. Maka aku coba menghubungi temanku di Antapani itu, mungkin malam ini aku bisa menginap di sana. Dan seperti yang ku duga, temanku yang satu ini selalu ada waktu bagiku. Thx.. Akhirnya setelah bertanya pada beberapa orang, sampai juga aku duduk di bis yang konon menuju Antapani.
Aku duduk di bangku paling depan.. Tiba-tiba hujan turun perlahan dan makin deras.. Hari makin gelap saat bis mulai melaju, tak terasa ini sudah malam.. Aku merasa cukup letih sekarang.. Ini akhir dari perjuanganku menguji otak di Olimpiade Psikologi. Sudah berlalu...!! Tak apalah jika aku belum berhasil, menjadi peserta saja aku sudah bersyukur.. Saat-saat sendiri di bis seperti ini mengingatkanku saat aku pulang dari sebuah demonstrasi 10 mei 2008, letih dan sangat lusuh...
After competition...
Malam saat tiba di Antapani, aku diajak menonton konser The Panasdalam, ini band Indie Bandung.. Kebetulan ini malam minggu, jadi Bandung agak ramai.
17 mei 2009
Keesokan harinya, minggu pagi aku dan kawanku menuju Dago Plaza, ada diskusi Bahasa Inggris, lebih tepatnya kursus bahasa Inggris yang diadakan tiap minggu pagi. Pulang dari DAPLA aku menuju CIWALK di sana rencananya aku akan bertemu dengan ketiga temanku yang kemarin tidak sempat menyaksikanku bertanding. Di Cihampelas Walk ini sedang ada lomba busana/kostum Jepang, lengkap dengan sebuah panggung konser yang menyanyikan lagu-lagu Jepang. Dari Ciwalk kami menuju salah satu pasar, aku lupa namanya, di pasar ini aku menemani ketiga kawanku (yang kesemuanya wanita) berbelanja. Ya, mereka wanita! Dan ini adalah Belanja!??. Hm…dua sisi mata uang! Tapi beruntung,, karena dari pasar inilah aku mendapati buku Victor Frankl dan sebuah buku penting yang pernah aku miliki namun hilang, ‘Kata Cinta‘..
Sore hari kita sudah berada di statiun.. Perjalanan menuju Jakarta dilalui menggunakan kereta, ini perjalanan yang cukup menyenangkan, berada 3 jam di kereta pada malam hari jadi pengalaman tersendiri yang berkesan. Jakarta menungguku… dan menunggu kabar dari Olimpiade Psikologi.. Thank’s for alL, thank’s for everything… =)
-Tim UIN Jakarta di Olimpiade Psikologi-







