RSS
Showing posts with label Essai. Show all posts
Showing posts with label Essai. Show all posts

Jejak Jokowi Menuju DKI-1


: Muhammad Iqbal
Joko Widodo. Siapa sangka pria berumur 51 tahun itu akan menjadi orang nomor satu di Jakarta. Jokowi, begitu ia disapa, telah berhasil menyihir warga ibukota dengan gaya bertutur dan sikapnya yang unik. Dan tepat hari ini, mantan pengusaha kayu itu akan dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta. Bagaimana rekam jejak Jokowi menuju DKI-1?

Jokowi mendaftarkan diri sebagai calon gubernur DKI Jakarta pada masa-masa injury time, yaitu pada hari terakhir pendaftaran cagub dan cawagub DKI tanggal 19 Maret 2012 sekitar pukul 17.30 WIB. Bahkan, Jokowi baru mengumumkan wakilnya hanya beberapa jam sebelum mendaftar ke KPU DKI. Jokowi mendaftarkan diri sebagai Cagub DKI bersama wakilnya Basuki Tjahaja Purnama atau disapa Ahok.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Essai

Menjadi Mahasiswa Psikologi
Oleh:Muhammad Iqbal

Izinkan aku merangkum pengalaman 3 tahun berkuliah dalam satu tulisan ini, tentang menjadi mahasiswa Psikologi. Karena melalui sharing kita akan sama-sama lebih mengerti..

Maha-siswa,
Dulu aku tidak pernah bisa membayangkan bagaimana rasanya memiliki title baru sebagai maha-siswa. Uh! Ini membuatku bingung tentang bagaimana jadinya jika saya berhasil menjadi mahasiswa. Karena yang ada saat akan masuk kampus hanyalah petuah orang tua yang berbunyi, “Sst!! Jangan ikut2an demo!!“, “Hati-hati Jaringan Liberal!!“ dll. Tapi, pada saatnya tiba aku menjadi mahasiswa, “Oh.. gini tho yang namanya kuliah?!!” Hah!! Bergelut dengan Psikologi: Kuliah-kosan, kuliah-organisasi, kuliah-maen, demo, liburan, kerja, pacaran.. dll. Lalu setelah 3 tahun ‘duduk‘ di kampus, kau jadi bertanya, “Apa ya yang dah didapat setelah 3 tahun berkuliah??“ ....

Hm.. Bingunglah saya menjawab ini..!! Karena rasanya ini hanya tentang menjalani hidup, hampa euy! Jika kalian bertanya pada saya tentang PSIKOLOGI, ya mungkin saya bisa menjelaskannya, dari mulai sejarah, teori, metodologi, sampai aplikasi... Tapi rasanya bukan penjelasan psikologi yang saya inginkan! Lalu jika kalian bertanya pada saya tentang organisasi, ya mungkin juga saya dapat menjawabnya, dari hal membuat porgram, pembentukan struktur sampai membuat event besar. Tapi sepertinya bukan hal ini pula yang saya inginkan..

Ada cita-cita, harapan, idealisme dan apalah itu namanya yang jauh lebih besar yang harus didapat jika seandainya saya menghabiskan beberapa waktu untuk berkuliah... (Kita tidak pernah tahu betapa berharganya kuliah karena kita tidak mau tahu betapa sulitnya orang lain yang ingin berkuliah). Tentu kita sama-sama tahu tentang orang tua yang mempekerjakan anaknya setelah tamat dari SMA karena tidak ada biaya untuk anaknya berkuliah? Dan tentang pengangguran yang melintas melewati gedung kampus tanpa pernah bisa merasakan ‘nikmatnya‘ berkuliah‘?? Ya maka beruntunglah kita dapat menikmati ‘indahnya‘ kuliah.. Tapi sepertinya kita menjadi manusia paling rugi jika kita berkuliah tanpa pernah memiliki harapan atau pencapaian!?

Kita tidak sedang membahas bahwa ada di antara kita yang terjebak, terdampar, terpaksa atau coba-coba berkuliah di Psikologi, karena apapun itu, yang pasti adalah saya, kamu dan yang lainnya adalah orang-orang yang sudah terkotak dalam ruang bernama Psikologi, jadi mau tidak mau berada di kampus ini harus memiliki harapan!

Saya akan jujur tentang harapan saya untuk alasan mengapa saya membuang waktu selama 4 tahun di kampus ini. Saya ingin menjadi ilmuwan psikologi (usai S1&S2), saya ingin skripsi saya menjadi buku, saya harus memiliki keterampilan khusus dalam psikologi (Ex; Hipnosis/grafologis/menafsirkan mimpi, etc), saya harus mengajak kawan2 saya untuk lebih banyak berdiskusi dan berliterasi, dan saya perlu pengalaman luar biasa sebagai mahasiswa (mendaki gunung/menjadi demonstran/ menginjak tanah terjauh di Indonesia) dll.

Sebagian harapan itu telah saya capai, dan saya perlu mencapai yang lain.. Jikalah tidak tercapai, saya tetap bangga karena saya pernah memiliki harapan. Lalu, bolehkah saya tahu apa HARAPAN kawan2??

Pada akhirnya, kita perlu menemukan lebih dalam apa sesungguhnya yang ingin kita harapkan ketika kita menentukan pilihan untuk membuang waktu cukup lama di kampus ini. Jika hanya berkuliah lalu menggeluti absen & tugas di kelas selama 4 tahun, dan akhirnya bisa kerja karena S1, rasanya semua orang bisa melakukan ini..

Ini tentang memberi manfaat sebanyak-banyaknya kepada orang lain, dan tentang menemukan makna.. Saya hanya khawatir dengan apa yang disebut oleh Victor Frankl sebagai ‘kehampaan eksistensial’. Hampa, hampa, hampa........

-Desember 2009-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ilusi di Kampus

“3 Meter Dari Tempat Kamu Belajar!“

Oleh: Muhammad Iqbal


Ini tentang keseharianku, keseharianmu dan keseharian ‘selain aku dan kamu‘. Tentang apa yang seharusnya dan apa yang tidak seharusnya. Tentang rutinitas dan tentang nilai rutinitas.


Lalu tentang apa jika aku, kamu dan selain aku dan kamu berbondong-bondong menuju pernikahan kerabat untuk mendapatkan kipas kecil yang akan kita gunakan karena AC di kampus belum juga terpasang?? Atau berbondong-bondong menuju Pasar Tanah Abang untuk juga mendapatkan kipas kecil karena pernikahan kerabat pada beberapa minggu ini tidak terlaksana. Tentang apakah kampus yang tak ber-AC??


O, ini [mungkin] hanya tentang anggaran, mungkin tentang waktu, tentang kesiapan, dan mungkin hanya tentang mahasiswa yang tak terbiasa dengan ruang yang tak Ber-AC. “Aku ga bisa belajar kalo ga ada AC..“. Tapi tak apalah, toh AC itu akan segera dipasang... Bukankah kau bisa melihat sendiri ada kabel AC [mungkin] yang tergantung 5 meter dari lantai tempat aku dan kamu belajar..??


O, itu kabel untuk AC?? Rasanya setahun lalu kita dikabari bahwa kampus kita akan segera dipasang AC, tapi jika aku tak salah menghitung ini sudah setahun... O, mungkin ukuran tahun kita dan tahun ‘selain aku dan kamu‘ itu berbeda.


Biarlah...Rupanya ini hanya tentang ilusi, menggantungkan ‘sesuatu‘ 5 meter dari tempat kamu dan aku belajar agar sama-sama kita persepsikan itu sebagai AC.. Ilusi!


Lalu tentang apakah kampus 4 lantai yang tak memiliki lift??


O, ini [mungkin] hanya tentang syarat, mungkin tentang aggaran, tentang waktu, atau mungkin hanya tentang mahasiswa yang tak terbiasa berolahraga... “Kampus harus 5 lantai kalo mau pasang lift“.

Nah, jadi biarlah... Kampus kita memang hanya 4 lantai tak bisa ditambah.


Toh itu sehat membiasakan aku, kamu dan selain aku dan kamu untuk berolahraga... Rupanya kampus ini selain mengajar kesehatan mental, juga tentang kesehatan fisik. Aku sepakat!

Lalu tentang apakah perpustakaan yang bukunya rusak dan tak terganti, tentang apakah lemari buku perpustakaan yang lengang karena tak ada tambahan buku?

(IMM menyumbangkan 15 buku psikologi untuk perpus tapi tak ada diperpus)


Tentang apakah kampus yang memperbaiki gedung namun tidak memperbaiki budaya mahasiswa...??


Tentang apakah......???

Dan tentang apakah....??


O, aku berlebih. Bukan itu semua inti pembicaraanku. Bukan tentang AC, Lift, atau tentang perpustakaan. Sungguh bukan itu! Karena yang aku tanyakan hanya satu dan hanya satu pertanyaan. Seperti hanya satunya pertanyaan mahasiswa…


Tentang apakah kampus megah namun sepi dari budaya intelektual?


Tak ada budaya diskusi…

tak ada budaya literasi…

Rasanya nafas mahasiswa tercium amis tanpa budaya intelektual!

Ini hanya tentang pembelajaran!


Bukankah dulu kita berharap akan ada perbaikan, peningkatan, dan pembelajaran jika kita telah menempati kampus yang baru…???

Padahal harapan itu realistis!


Aku sendiri dulu memiliki harapan, “jika kampus baru selesai, aku berharap akan ada banyak pojok diskusi, semacam halaqah atau kelompok2 diskusi. Walau hanya 2 orang...“. Sekarang, setelah kampus ini jadi, diresmikan, megah dan indah… Mengapa harapan kita pada budaya intelektual belum juga terwujud.

Padahal tinggal melakukannya!


Berharap akan dipasang AC atau lift jika kampus baru berdiri, itu bukan harapan..! Karena memang tak perlu berharap dan mengharapkan [seperti] itu..


Kini,

Saatnya kita menempati ruang-ruang lengang dikampus dengan diskusi dan literasi...

Mengisi rongga-rongga udara kampus dengan argumentasi dan teori..


Lalu menutup setiap celahnya dengan ibadah...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS